Kupas Tuntas Silase: Dari Pembuatan hingga Penyimpanan yang Benar

Silase adalah pakan ternak yang dibuat melalui proses fermentasi bahan hijauan atau limbah pertanian yang disimpan dalam kondisi anaerob (tanpa oksigen). Proses ini bertujuan untuk mengawetkan pakan ternak sehingga dapat digunakan dalam jangka waktu yang lebih lama, terutama saat musim kemarau atau ketika ketersediaan hijauan segar terbatas. Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang pembuatan silase, mulai dari pemilihan bahan, proses fermentasi, hingga penyimpanan yang benar untuk menghasilkan silase berkualitas tinggi.
Mengapa Silase Penting untuk Ternak?
Silase memiliki peran penting dalam mendukung keberlanjutan peternakan, terutama dalam hal:
- Ketersediaan Pakan: Memastikan ketersediaan pakan yang konsisten sepanjang tahun, mengatasi masalah kekurangan pakan di musim kemarau.
- Kualitas Pakan: Mempertahankan nilai nutrisi hijauan atau limbah pertanian yang digunakan, bahkan dapat meningkatkan daya cerna.
- Efisiensi Biaya: Mengurangi ketergantungan pada pakan konsentrat yang harganya relatif mahal.
- Pemanfaatan Limbah: Memanfaatkan limbah pertanian sebagai pakan ternak, mengurangi pencemaran lingkungan.
Bahan-Bahan yang Cocok untuk Silase
Berbagai jenis hijauan dan limbah pertanian dapat digunakan untuk membuat silase, antara lain:
- Rumput: Rumput gajah, rumput benggala, rumput setaria, dan jenis rumput lainnya.
- Leguminosa: Lamtoro, gamal, kaliandra, dan jenis leguminosa lainnya.
- Tanaman Jagung: Seluruh bagian tanaman jagung setelah dipanen bijinya (silase jagung).
- Limbah Pertanian: Kulit nanas, pucuk tebu, jerami padi (dengan perlakuan khusus).
Pemilihan bahan harus mempertimbangkan kandungan nutrisi, ketersediaan, dan biaya. Idealnya, bahan silase memiliki kandungan karbohidrat yang cukup tinggi untuk mendukung proses fermentasi.
Proses Pembuatan Silase yang Benar
Proses pembuatan silase yang benar meliputi beberapa tahapan penting:
- Panen dan Pencacahan: Hijauan dipanen pada umur yang tepat (misalnya, rumput saat mulai berbunga) dan dicacah menjadi potongan-potongan kecil (2-5 cm) untuk memudahkan pemadatan dan fermentasi.
- Penambahan Aditif (Opsional): Aditif seperti molase, dedak, atau bakteri asam laktat (BAL) dapat ditambahkan untuk mempercepat fermentasi dan meningkatkan kualitas silase. Molase menyediakan sumber gula untuk bakteri, sedangkan BAL membantu mendominasi fermentasi yang diinginkan.
- Pemuatan dan Pemadatan: Bahan silase dimuat ke dalam silo (tempat penyimpanan silase) secara berlapis, sambil dipadatkan dengan kuat untuk mengeluarkan udara. Pemadatan yang baik sangat penting untuk menciptakan kondisi anaerob.
- Penutupan Silo: Setelah silo penuh, segera ditutup rapat dengan plastik atau terpal kedap udara untuk mencegah masuknya oksigen. Pastikan tidak ada lubang atau sobekan pada penutup.
- Fermentasi: Proses fermentasi akan berlangsung selama 3-6 minggu. Bakteri asam laktat akan mengubah karbohidrat menjadi asam laktat, yang akan menurunkan pH silase dan mencegah pertumbuhan mikroorganisme pembusuk.
Jenis-Jenis Silo
Beberapa jenis silo yang umum digunakan antara lain:
- Silo Parit (Trench Silo): Berbentuk parit yang digali di tanah.
- Silo Menara (Tower Silo): Berbentuk menara vertikal.
- Bale Silage: Hijauan dibal dengan mesin khusus dan dibungkus plastik.
- Silo Kantong (Bag Silo): Menggunakan kantong plastik besar untuk menyimpan silase.
Pemilihan jenis silo tergantung pada skala peternakan, ketersediaan lahan, dan biaya.
Penyimpanan Silase yang Benar
Penyimpanan yang benar sangat penting untuk menjaga kualitas silase:
- Kedap Udara: Pastikan silo selalu tertutup rapat dan tidak ada kebocoran udara.
- Terlindung dari Air: Lindungi silo dari air hujan atau air tanah.
- Suhu yang Stabil: Hindari paparan suhu ekstrem.
- Hindari Kerusakan Fisik: Jaga silo dari kerusakan fisik yang dapat menyebabkan masuknya udara.
Ciri-Ciri Silase Berkualitas Baik
Silase berkualitas baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
- Warna: Hijau kekuningan atau coklat muda.
- Bau: Asam seperti acar atau cuka.
- Tekstur: Tidak berlendir atau berjamur.
- pH: Antara 3.8 - 4.2.
Pemberian Silase pada Ternak
Silase dapat diberikan pada berbagai jenis ternak ruminansia seperti sapi, kambing, dan domba. Pemberian silase harus disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi ternak dan kondisi fisiologisnya. Secara bertahap campurkan silase dengan pakan hijauan segar atau konsentrat agar ternak terbiasa dengan rasa dan aroma silase. Perhatikan selalu kondisi ternak dan sesuaikan jumlah pemberian silase jika diperlukan.
Kesimpulan
Silase adalah solusi efektif untuk mengatasi masalah ketersediaan pakan ternak, terutama di musim kemarau. Dengan memahami proses pembuatan dan penyimpanan yang benar, peternak dapat menghasilkan silase berkualitas tinggi yang dapat meningkatkan produktivitas ternak dan efisiensi usaha peternakan. Investasi dalam pembuatan silase adalah investasi jangka panjang untuk keberlanjutan peternakan Anda.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar