Mengenal Silase: Jenis, Keunggulan, dan Cara Aplikasi yang Tepat

Silase merupakan salah satu metode pengawetan pakan ternak yang penting, terutama di daerah dengan musim kering yang panjang atau ketika ketersediaan hijauan segar terbatas. Proses silase melibatkan fermentasi anaerobik (tanpa oksigen) dari hijauan yang menghasilkan asam laktat, sehingga menghambat pertumbuhan mikroorganisme pembusuk dan memungkinkan pakan disimpan dalam jangka waktu yang lebih lama. Artikel ini akan membahas lebih lanjut tentang jenis-jenis silase, keunggulannya, dan cara aplikasi yang tepat untuk memaksimalkan manfaatnya bagi peternakan.
Apa Itu Silase?
Secara sederhana, silase adalah hijauan pakan ternak yang diawetkan melalui proses fermentasi. Proses ini mengubah karbohidrat yang larut dalam air menjadi asam laktat oleh bakteri asam laktat (BAL). Asam laktat inilah yang menurunkan pH hijauan, menciptakan lingkungan asam yang menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk dan jamur, sehingga hijauan dapat disimpan dalam kondisi stabil selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun jika dilakukan dengan benar.
Jenis-Jenis Silase Berdasarkan Bahan Baku
Silase dapat dibuat dari berbagai jenis hijauan. Beberapa jenis silase yang umum meliputi:
- Silase Jagung: Dibuat dari seluruh bagian tanaman jagung (batang, daun, dan tongkol). Silase jagung memiliki kandungan energi yang tinggi dan sangat populer di kalangan peternak sapi perah.
- Silase Rumput: Dibuat dari berbagai jenis rumput seperti rumput gajah, rumput benggala, atau campuran rumput lapangan. Kandungan nutrisinya bervariasi tergantung jenis rumput yang digunakan.
- Silase Leguminosa: Dibuat dari tanaman leguminosa seperti lamtoro, kaliandra, atau gamal. Silase leguminosa kaya akan protein.
- Silase Campuran: Dibuat dari campuran berbagai jenis hijauan, misalnya campuran jagung dan rumput. Campuran ini bertujuan untuk menyeimbangkan nutrisi dalam silase.
- Silase Limbah Pertanian: Dibuat dari limbah pertanian seperti kulit nanas, onggok singkong, atau ampas tahu. Penggunaan limbah pertanian sebagai silase membantu mengurangi limbah dan menyediakan pakan ternak yang murah.
Keunggulan Penggunaan Silase dalam Peternakan
Penggunaan silase menawarkan sejumlah keuntungan bagi peternak:
- Mempertahankan Kualitas Pakan: Silase mampu mempertahankan nutrisi hijauan, bahkan meningkatkan daya cernanya.
- Ketersediaan Pakan yang Terjamin: Silase menjamin ketersediaan pakan ternak, terutama di musim kemarau atau saat hijauan segar sulit didapatkan.
- Mengurangi Ketergantungan pada Pakan Konsentrat: Dengan silase berkualitas, ketergantungan pada pakan konsentrat dapat dikurangi, sehingga menekan biaya produksi.
- Memudahkan Manajemen Pakan: Silase lebih mudah disimpan dan ditangani dibandingkan hijauan segar.
- Meningkatkan Produktivitas Ternak: Dengan pakan yang berkualitas dan tersedia sepanjang tahun, produktivitas ternak (pertumbuhan, produksi susu, dll.) dapat ditingkatkan.
- Pemanfaatan Limbah Pertanian: Silase dapat dibuat dari limbah pertanian, membantu mengurangi pencemaran lingkungan dan meningkatkan nilai ekonomis limbah tersebut.
Cara Aplikasi Silase yang Tepat
Aplikasi silase yang tepat sangat penting untuk memastikan ternak mendapatkan manfaat maksimal dari pakan ini. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Pembuatan Silase yang Berkualitas
Kualitas silase sangat bergantung pada proses pembuatannya. Pastikan hijauan dipanen pada saat yang tepat (saat kandungan nutrisinya optimal), dicacah dengan ukuran yang sesuai (sekitar 1-3 cm), dipadatkan dengan baik untuk menghilangkan oksigen, dan disimpan dalam wadah yang kedap udara (silo). Inokulan bakteri asam laktat dapat ditambahkan untuk mempercepat proses fermentasi dan meningkatkan kualitas silase. Pastikan kadar air hijauan ideal, yaitu sekitar 60-70%. Terlalu kering akan menghambat fermentasi, sedangkan terlalu basah akan menyebabkan silase berlendir dan berbau busuk.
2. Penyimpanan Silase
Silase harus disimpan di tempat yang kering, sejuk, dan terlindung dari sinar matahari langsung. Silo dapat berupa silo menara, silo horisontal (bunker), atau bahkan kantong plastik besar (silobag). Pastikan silo tertutup rapat untuk mencegah masuknya oksigen dan air. Periksa secara berkala untuk memastikan tidak ada kerusakan pada silo yang dapat menyebabkan kerusakan silase.
3. Pemberian Silase kepada Ternak
Silase dapat diberikan langsung kepada ternak sebagai pakan tunggal atau dicampur dengan pakan lain seperti rumput segar atau konsentrat. Perkenalkan silase secara bertahap kepada ternak untuk menghindari gangguan pencernaan. Mulailah dengan memberikan silase dalam jumlah kecil dan secara bertahap tingkatkan porsinya. Perhatikan respon ternak terhadap silase. Jika ternak menunjukkan tanda-tanda gangguan pencernaan (diare, penurunan nafsu makan), kurangi porsi silase atau hentikan pemberiannya untuk sementara waktu. Pastikan silase yang diberikan bebas dari jamur atau kerusakan lainnya. Silase yang berjamur atau rusak dapat mengandung mikotoksin yang berbahaya bagi ternak.
4. Dosis Pemberian Silase
Dosis pemberian silase tergantung pada jenis ternak, umur, berat badan, dan tingkat produksi. Sebagai panduan umum, sapi perah dapat diberikan silase sebanyak 10-20 kg per hari, sedangkan sapi potong dapat diberikan 5-10 kg per hari. Konsultasikan dengan ahli nutrisi ternak untuk menentukan dosis yang tepat untuk ternak Anda.
Kesimpulan
Silase merupakan solusi efektif untuk pengawetan pakan ternak yang menyediakan ketersediaan pakan berkualitas sepanjang tahun. Dengan memahami jenis-jenis silase, keunggulannya, dan cara aplikasi yang tepat, peternak dapat meningkatkan produktivitas ternak dan mengurangi biaya produksi. Penerapan teknologi silase yang baik akan berkontribusi pada keberlanjutan sistem peternakan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar